USAHA AYAM
BAKAR mas mono yang dirintis pertama kali oleh A.mono(mas mono).Mono sering berdagang gorengan di
sekitar Universitas Sahid di Jalan Prof Dr Soepomo, Tebet, Jakarta Selatan.
Suatu hari, ketika ia tengah menunggu pembeli, Mono terpikir berdagang ayam
bakar. “Saat itu, jarang sekali orang jual ayam bakar. Ditambah lagi masih ada
lahan kosong di sekitar kampus Sahid,” ujarnya.
Yakin terjun ke usaha ayam bakar,
Mono pun mencari modal. Akhirnya, ia mendapatkan modal Rp 500.000 untuk membeli
bahan dan bumbu ayam bakar serta perlengkapan memasak.
Awalnya, Mono menyajikan ayam bakar,
tempe, tahu, dan cah kangkung. Ketika itu, ia menjual seporsi nasi plus ayam
bakar Rp 5.000. Rupanya banyak yang menyambangi gerobak Ayam Bakar Kalasan
miliknya, baik mahasiswa, pegawai kantoran, dan orang yang lalu lalang di Jalan
Soepomo.
Waktu itu, ia mengolah 80 ekor ayam
per hari. Soal rasa, Mono belajar otodidak dari saran dan kritik para
pelanggan. “Ada yang bilang pakai bumbu ini, pakai kecap itu, nasinya jangan
nasi pera,” kata Mono. Ia pun mencoba menerima saran dan kritik pembelinya itu
hingga benar-benar menemukan rasa khas Ayam Bakar Kalasan.
| lapak ayam bakar |
Melihat pengunjung yang makin
banyak, Mono pun memperluas lokasi usaha. Dengan bantuan lima karyawan, ia
mengubah konsep tempat makan, dengan menempatkan meja dan kursi berpayung
terpal.
Pada tahun 2004, gerai ayam bakar
Mono kena gusur. Ia pun memindahkan gerainya ke Jalan Tebet Raya, Jakarta
Selatan. “Waktu itu, Tebet sepi, tidak seramai sekarang. Belum banyak usaha
makanan juga,” katanya.
| restoran mas mono |
Dari sinilah, Ayam Bakar Kalasan
makin dikenal luas dan punya banyak penggemar. Mono pun membuka cabang di
banyak tempat hingga beromzet ratusan juta rupiah per bulan.
Sumber :http://bisniskeuangan.kompas.com/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar